Indonesia sedang mengeksekusi strategi ganda yang komplementer untuk memperkuat posisinya di peta global: memanfaatkan kekuatan budaya melalui ekonomi kreatif dan mengoptimalkan kekuatan modal via manajemen aset negara. Di satu sisi, fenomena budaya populer seperti Aura Farming membuktikan daya tarik soft power nusantara. Di sisi lain, keputusan strategis Danantara dalam mengumpulkan saham BUMN saat pasar lesu menegaskan komitmen value investing jangka panjang. Kedua gerakan ini, meskipun berdomain berbeda, saling menguatkan narasi Indonesia sebagai negara berkembang yang siap bersaing secara holistik.
Soft Power: Budaya Lokal Jadi Magnet Global
Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong transformasi fenomena viral menjadi mesin ekonomi berkelanjutan. Kasus Rayyan Arkan Dikha, pelaku Aura Farming asal Riau yang menarik perhatian internasional, menjadi bukti nyata bahwa kreativitas anak muda berakar pada tradisi lokal mampu menembus batas geografis. Pemerintah menilai momen ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan pintu gerbang menuju pengakuan global atas kekayaan budaya Indonesia.
Dari Viral ke Berkelanjutan: Tantangan Ekosistem
Popularitas global harus diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komunitas kreatif di daerah asal. Tantangan utamanya在于 membangun infrastruktur pendukung—mulai dari hak kekayaan intelektual (HKI), akses pasar digital, hingga pembiayaan—sehingga kreativitas tidak berhenti pada tahap exposure saja. Pemerintah berkomitmen menyusun kerangka kerja yang memungkinkan seniman dan kreator menikmati buah karya mereka secara adil dan berkelanjutan.
World Conference on Creative Economy 2026: Merumuskan Jakarta Vision
Sebagai wadah formalisasi komitmen ini, World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta mengumpulkan 292 partisipan dari 42 negara. Agenda utamanya adalah penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy—sebuah kerangka kolaboratif lintas negara yang lahir bukan dari dokumen kaku, melainkan dari percakapan inklusif. Visi ini diharapkan menjadi fondasi aksi nyata: kolaborasi lintas batas, transfer pengetahuan, dan pembukaan akses pasar global bagi produk kreatif Indonesia.
Jakarta Vision tidak boleh berhenti sebagai kesepakatan konferensi, melainkan harus menjadi pijakan kolaborasi nyata yang mengubah perhatian dunia menjadi peluang ekonomi berkelanjutan bagi pelaku ekraf.
Hard Power: Danantara dan Ketahanan Aset Negara
Selaras dengan ekspansi budaya, penguatan fundamental ekonomi dijaga melalui manajemen aset yang cerdas. Danantara Indonesia, sebagai badan pengelola investasi BUMN, menegaskan posisi bullish terhadap saham-saham perusahaan negara. Chief Investment Officer Pandu Sjahrir menegaskan bahwa fundamental operasional dan keuangan BUMN tetap sangat kuat, menjadikan koreksi harga pasar sebagai momentum emas untuk akumulasi aset.
Strategi Counter-Cyclical: Membeli Saat Lain Jual
Filosofi investasi Danantara mengadopsi pendekatan value investing dengan orientasi keuntungan jangka panjang. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan, lembaga ini justru aktif "menyerok" saham-saham blue chip seperti BBRI, BMRI, TLKM, BBNI, dan ANTM. Tindakan ini tidak hanya mendukung stabilitas pasar modal domestik, tetapi juga mengunci nilai intrinsik aset negara dengan harga yang menarik (attractive value).
Disiplin Risiko dan Imbal Hasil
Setiap keputusan akuisisi saham selalu ditimbang melalui kerangka risk-reward yang ketat. Danantara tidak mengejar spekulasi jangka pendek, melainkan fokus pada kepemilikan jangka panjang pada entitas dengan prospek bisnis jelas dan tumpangan modal yang solid. Pendekatan ini memastikan kekayaan negara tidak hanya terpelihara, tetapi terus tumbuh seiring pemulihan dan ekspansi ekonomi nasional.
- Fokus pada fundamental kuat BUMN (kinerja operasional & keuangan).
- Akuisisi berkelanjutan saat valuasi pasar menarik (value buying).
- Orientasi profit-oriented dengan manajemen risiko terukur.
- Portofolio mencakup emiten blue chip sektor perbankan, telekomunikasi, dan pertambangan.
Sinergi: Ketika Kreativitas Bertemu Modal
Kedua narasi di atas—ekonomi kreatif dan investasi strategis—sebenarnya adalah dua sisi mata uang yang sama: pembangunan kapasitas nasional. Ekonomi kreatif membutuhkan modal untuk menskalakan inovasi, melindungi HKI, dan menembus pasar global. Di saat yang sama, kekuatan pasar modal yang didorong fundamental BUMN yang sehat menyediakan likuiditas dan kepercayaan investor domestik maupun asing.
Bayangkan skenario di mana Danantara atau entitas BUMN di bawah naungannya mengalokasikan dana venture capital atau CSR terstruktur untuk mendanai startup ekonomi kreatif berbasis budaya—seperti platform digital untuk seni pertunjukan tradisional atau e-commerce produk kerajinan yang viral lewat Aura Farming. Sinergi inilah yang akan menciptakan flywheel pertumbuhan: budaya menarik perhatian, modal membangun skala, dan skala menciptakan lapangan kerja serta devisa.
Kesimpulan
Indonesia sedang berlari pada dua jalur yang saling menguatkan: memproyeksikan identitas budaya ke panggung dunia melalui ekonomi kreatif, dan memperkuat tulang punggung finansial negara melalui manajemen aset yang disiplin. Suksesnya WCCE 2026 dalam merumuskan Jakarta Vision dan keteguhan Danantara menopang nilai aset BUMN adalah bukti komitmen ganda ini. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita jual, tetapi juga oleh bagaimana kita mengelola apa yang kita miliki dan menciptakan. Mari dukung ekosistem kreatif lokal dan pantau perkembangan pasar modal—karena keduanya adalah investasi untuk masa depan bangsa.